Gara-gara Jaket Hima

Setelah melewati lampu merah pertama, cewek manis berusia 20 tahun ini merasa ada yang janggal dengan motornya. Di-gas penuh malah semakin melambat. Ia menyalakan lampu sein kirinya dan menyegerakan menepi. Benar saja, jarum tangki bensin menunjuk huruf E.

Sial! Padahal biasanya kalau sudah E pun masih bisa dipake jalan. Tapi sepertinya aku salah perhitungan. Perjalanan dari kosan ke ofis dan balik lagi ke kosan, Keputih Perintis-Baratajaya-Keputih Perintis ternyata tidak menjamin motorku tetap bisa jalan bermodalkan bensin yg sudah E.

Mana ini malam hari, jam 10 malam pula. Pulsaku kurang dari seribu, uangku di dompet tinggal sembilan ribu. Lengkap :””'(

Tidak lebih dari lima menit aku menuntun motor menjauhi spot bertanda “dilarang parkir”, aku berniat menghubungi Gary untuk meminta tolong. Belum sampai aku mengeluarkan hp dari tas, ada dua laki-laki asing bermotor yang menghampiri.

“Mbak, saya dari Mesin ITS. Ada apa mbak?”, ucap laki-laki yang duduk di belakang motor kepadaku.

“Oh ini bensinnya habis mas”

Keduanya pun terlihat berbisik-bisik. Seperti memutuskan sesuatu.

“Sebentar ya mbak, saya carikan bensin”

“Loh.. Masnya mau bantu saya?”, tanyaku dengan tampang bego.

“Iya mbak, mbak tunggu disini ya”

“Waaaaah makasih banyak mas, iya mas tak tunggu disini”, dengan mata berbinar-binar saking terharunya dan tanpa ragu-ragu aku mengiyakan bantuan mereka. Mengingat pada malam itu aku menggunakan jaket hima yang ada lambang ITS nya, pikirku mungkin laki-laki itu memiliki sense of belonging yang tinggi terhadap almamaternya. Ya, saat itu aku begiiituuuuuu positive thingking..

Tidak lama kemudian, kedua laki-laki itu datang dengan tangan hampa. Aku kira mereka akan membawakan botol berisi bensin eceran.

“Mbak, motornya saya bawa kesana ya”, kata laki-laki yang duduk di belakang motor sambil menunjuk ke satu arah.

“Loh, mau kemana mas?”, tampangku bingung.

“Mbak sini naik ke motor saya”, ucap laki-laki yang satunya lagi.

Dan kemudian pikiran negatif mendadak memenuhi otak. Tidaaak! Aku diculik nih?? Motorku mau dibawa lari kah?? Aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakkkk Ibu Bapaaaaaaak!!!

“Ini loh mbak pom bensinnya deket ternyata, jadi mending motornya dibawa kesini kan, daripada saya carikan bensin eceran”, senyum laki-laki dari mesin itu

Eh..

“Makasi banyak ya mas, makasi banyak.. mas mesin angkatan berapa?”

“Wes lulus kok mbak, hahaha”

“Oalaah.. Kalau boleh tau nama masnya siapa?”

“Joko, mbak”

“Hoooo, makasih banyak ya mas Joko”, aku pun menyalami mereka berdua.

“Iya mbak, samasama”

“Maaf saya tadi sempat berpikiran negatif ke kalian berdua hehe”, ucapku dalam hati.

Saat mereka berdua pergi, aku menuntun motorku lebih dekat ke pom bensin.

“Berapa mbak?”

“Sembilan ribu mas”

-END-
[Senin, 7 Oktober 2013]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s