1 meter

Pernah nggak sih berada di keadaan sahabatmu-bertransformasi-menjadi-teman-biasa? Aku pernah, malah mengalaminya sebanyak dua kali. Jleb. Sakit. Banget.

Nggak ada yang salah sih. Nggak ada. Tapi sakit. Nusuk.

Sekarang kalau ngeliat dia yang sudah berubah menjadi pribadi yang lebih baik, aku senang. Bahagia. Karena sepertinya pacarnya yang sekarang berhasil mendongkrak nilai akademiknya dan hasratnya untuk berorganisasi. Karya tulisnya lolos dikti, dia jadi sekretaris departemen, yaaah.. .setidaknya sekarang dia sudah bisa menyibukkan dirinya dengan hal-hal yg bisa membuatnya mencintai dirinya sendiri.

Hei sahabat, aku bahagia kamu bahagia :’)

Sedih tau ngeliat kamu dulu nangis-nangis nggak karuan karena pacarmu yang dulu nyakitin kamu, nyelingkuhin kamu, ngebohongin kamu dan hal menyakitkan lainnya. Pengen banget meluk kamu erat-erat dan bilang, “bahagiamu bukan dia, bahagiamu ada, tapi bukan dia, jadi tolong sabar”.

Kata orang-orang, manusia itu bisa berubah. Sifatnya, parasnya, tutur katanya. Tapi aku yakin manusia itu tidak ada yang berubah. Mereka tetap dalam wujud yang sama, hanya kita saja yang melihat dalam sudut pandang yang berbeda.

Begitu juga kamu.

Walapun kini pelukan berubah menjadi jabat tangan, jabat tangan berubah menjadi sekedar sapaan, sapaan menjadi segaris senyum, ratusan kata menjadi puluhan kata, dan 1 centimeter menjadi 1 meter.. .kamu tetap kamu.

Tapi rasanya beda. Ada yang mengganjal. Ada yang salah. Tapi apa??

Kamu kah? Aku kah?

Siapa??

— Aku, di jarak 1 meter.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s