Is This A Kind Of Pride?

For me this is a kind of pride. We are all proud of her. Give her congratulations, applause, kisses, hugs, handshakes, and all things indicate that we are proud. But she did not.

Pernah dua tahun yang lalu, aku dengan otakku yang pas-pasan ini begitu optimis menentukan akan kemana nantinya aku melanjutkan kuliah setelah tamat SMA. Semua formulir pendaftaran perguruan tinggi kujejali paksa dengan pilihan pertama: Pendidikan Dokter.
Tanpa memikirkan passing grade, kuota prodi, ataupun biaya pendidikannya.

Terlalu optimis? Memang sih. Tapi mimpi memang harus digantung tinggi kan?
Konsekuensinya, jika berhasil aku bisa melambung ke titik tertinggi mendahului teman-temanku. Namun jika tidak, mimpiku akan menggantungku, mencekikku, membuatku susah bernafas.

Dan dua tahun yang lalu, mimpiku mencekikku. Bukan hanya aku yang tercekik, Ayah dan Ibuku juga. Aku merasa begitu berdosa saat itu. Aku menangis sejadi-jadinya. Bukan, bukan karena aku tidak berhasil menggapai mimpiku tapi karena aku membuat kedua orang tuaku kecewa.

Mungkin memang bukan aku si pembawa kebanggaan. Melainkan adikku. Dua tahun setelahnya tepatnya tahun ini, dan aku mendapatkan kehormatan menjadi orang pertama yang melihatnya..

Bagaimana aku tidak bangga, bagaimana aku tidak tersenyum puas? Setidaknya kekecewaan orang tuaku dua tahun lalu telah dibayar dengan sebuah kebanggaan yang dibawa oleh adikku. Walaupun bukan aku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s